TABLIGH.ID, BANTUL — Dakwah yang efektif tidak cukup berhenti pada penyampaian pesan. Mubaligh perlu memahami kondisi jamaah, menyusun materi secara terarah, dan mengajak masyarakat bergerak menuju perubahan. Prinsip itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gita Danu Pranata, S.E., M.M., dalam materi “Manhaj Tabligh Muhammadiyah: Psikologi Mad‘u, Retorika, dan Adab Mubaligh di Era Digital”.
Materi tersebut menjadi bagian dari Pelatihan dan Sertifikasi Mubaligh Muhammadiyah Pusat Angkatan Pertama yang diselenggarakan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah di Tabligh Institute Muhammadiyah, Ahad, 11 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti para mubaligh dari Gunung Kidul.
Dosen Prodi Manajemen UMY ini menjelaskan bahwa tabligh Muhammadiyah memiliki empat prinsip utama: mengajak, membimbing, mencerdaskan, dan menggerakkan. Keempatnya menempatkan mubaligh bukan hanya sebagai penyampai materi keagamaan, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat dalam memahami ajaran, membangun kesadaran, dan menerapkannya dalam kehidupan.
Untuk menjalankan peran tersebut, mubaligh perlu memahami kondisi psikologis mad‘u atau sasaran dakwah. Jamaah memiliki pengalaman, kebutuhan, dan persoalan yang beragam. Usia, tahap kehidupan, tingkat pendidikan, literasi, pengalaman beragama, serta keadaan sosial dapat memengaruhi cara seseorang menerima pesan keagamaan.
Pemahaman terhadap mad‘u membantu mubaligh memilih pendekatan dan bahasa yang sesuai. Materi yang sama tidak selalu dapat disampaikan dengan cara yang sama kepada setiap kelompok. Dakwah kepada anak muda, keluarga, pekerja, atau masyarakat dengan pengalaman pendidikan berbeda memerlukan kepekaan terhadap konteks masing-masing.
Dalam pemaparannya, Ustadz Gita juga menguraikan tahapan perkembangan seorang Muslim yang merujuk pada materi Yusuf al-Qaradawi. Tahapan itu mencakup Muslim yang mengenal Islam sebagai identitas, Muslim yang menjalankan ibadah, Muslim yang memahami Islam secara lebih menyeluruh, hingga Muslim yang terlibat dalam dakwah dan perbaikan masyarakat. Kerangka tersebut mengingatkan mubaligh bahwa pembinaan keagamaan berlangsung bertahap dan membutuhkan pendampingan.
BACA JUGA
Pesan dakwah, lanjutnya, perlu disusun dengan alur yang jelas. Penyampaian dapat dimulai dari pembukaan yang relevan dengan kehidupan audiens, dilanjutkan dengan inti materi dan penguatan dalil. Contoh konkret membantu jamaah memahami kaitan ajaran dengan persoalan sehari-hari. Setelah itu, mubaligh dapat mengajak audiens melakukan tindakan yang sesuai, sebelum menutup penyampaian dengan rangkuman atau penegasan pesan.
Efektivitas tabligh juga ditentukan oleh cara pesan disampaikan. Gita membagi retorika mubaligh ke dalam aspek verbal, vokal, dan visual. Dari sisi verbal, bahasa perlu sederhana, jelas, konkret, dan sistematis. Dari sisi vokal, mubaligh perlu memperhatikan artikulasi, intonasi, tempo, volume, dan jeda. Sementara itu, kontak mata, ekspresi, gestur, postur, serta gerak tubuh turut membantu membangun perhatian dan kedekatan dengan jamaah.
Perhatian terhadap retorika menjadi semakin penting ketika dakwah berlangsung di ruang digital. Potongan video atau kutipan singkat dapat beredar tanpa penjelasan lengkap. Karena itu, mubaligh perlu menjaga konteks agar pesan tidak mudah disalahartikan, memeriksa kebenaran informasi sebelum menyampaikan atau menyebarkannya, serta menggunakan bahasa yang santun dan bertanggung jawab.
Di ruang digital, pesan yang menarik tetap perlu berpijak pada ketepatan dan adab. Penyampaian yang provokatif dapat mengalihkan perhatian dari substansi dakwah dan memicu kesalahpahaman. Sebaliknya, bahasa yang jernih dan bijaksana memberi ruang bagi audiens untuk memahami pesan secara utuh.
Materi Ustadz Gita menegaskan bahwa manhaj tabligh menuntut mubaligh menghubungkan pemahaman agama dengan kebutuhan masyarakat. Keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari tersampaikannya materi, tetapi juga dari sejauh mana pesan itu membantu jamaah memahami ajaran, tumbuh kesadarannya, dan terdorong melakukan kebaikan.
Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah membekali peserta dengan pemahaman tentang sasaran dakwah, keterampilan komunikasi, dan etika bermedia. Bekal tersebut diharapkan membantu para mubaligh menyampaikan dakwah yang lebih tepat, mencerahkan, dan berdaya guna bagi masyarakat.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.