Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Basen, Kotagede, Yogyakarta mengajak ibu-ibu yang tergabung dalam Taman Lansia Sahaja ‘Aisyiyah (TLSA) Basen untuk belajar keluar kelas (outing class) menuju Pasar Lawas Mataram.

Kegiatan berlangsung pada hari Ahad, (27/9/2026) mulai pukul 16.00 WIB. Para lansia tersebut saling menjemput dari Bumen menuju Masjid Muhtadin yang sudah ditunggu warga Basen kemudian berjalan menuju rombongan warga Paseko.

Setelah lengkap dengan jumlah 50 orang, mereka berjalan menuju Mentaok Raya, lewat depan pasar legi Kotagede untuk menuju Masjid Mataram lewat pintu timur.

Sebelum berangkat, Ketua PRA Basen, Atik Amanati menyampaikan beberapa hal. Pertama, para lansia mendapat uang sebagai ganti snack yang biasanya mereka dapatkan saat pertemuan di masjid-masjid.

Kedua, ia berpesan agar ibu-ibu saat berjalan menuju lokasi tidak berpencar-pencar, melainkan selalu bersama-sama, minimal berdua.

Dia menjelaskan, bahwa hari ini merupakan hari terakhir pasar lawas mataram. Sehingga mungkin akan penuh sesak. Makanya dia berpesan agar semua harus bersama-sama, sehingga nanti tidak saling mencari.

Selanjutnya, dia menyampaikan, agar ibu-ibu pulangnya lewat pintu utara dan boleh bersama-sama lagi menuju titik kumpul, atau boleh sendiri asal dijemput keluarga.

“Di pasar lawas tersedia beraneka macam jajanan jaman dulu (jadul). Uang snack bisa digunakan untuk membeli. Namun andaikan kurang, silahkan ditambah dengan uang pribadi,” demikian pesan Atik.

Setelah penyampaian berbagai informasi, pengurus dan pengelola TLSA Basen, yaitu Guntarti dan Fatichah membawa benner, melangkah untuk memulai outing class. Agar tidak terasa jauh dan capek, maka ibu-ibu menghibur dengan bernyanyi lagu-lagu penyemangat.

Tiba di pintu gerbang timur, peserta kembali diingatkan agar berjalan minimal berdua. Kalau mau mendahului pulang, harus menyampaikan kepada pengurus atau pengelola.

Di pasar lawas, ibu-ibu terlihat sangat gembira. Ini merupakan agenda tahunan yang biasanya mereka lakukan bersama-sama. Para lansia berbaur dengan pengunjung.

Di sana tersedia berbagai jajanan. Ada cenil, klepon, cucur, clorot, lepet, wajik, jenang, ronde, dan aneka dawet. Termasuk ada berbagai olahan nasi, yakni nasi gurih, nasi kuning dan masih banyak lagi.

Jajanan-jajanan lawas tersebut juga tidak hanya dari khas Kotagede, bahkan ada makanan lawas dari Purworejo yaitu gebleg.

Setelah berbelanja dan berkeliling, ibu-ibu ada yang duduk-duduk di serambi masjid sambil mendengarkan musik. Kemudian ada juga yang melihat pertunjukan di panggung. Termasuk ada juga beberapa yang masih belum puas muter-muter.

Pengurus dan pengelola atau tim pendamping masih dengan penuh kesabaran menunggu para lansia yang masih ada di seputar halaman masjid sampai mereka semua sudah pulang. Ada rasa puas, senang, gembira di wajah pengurus dan pengelola karena sudah melaksanakan salah satu program TLSA yaitu belajar di luar kelas. 

Begitu pula para lansia sambal saling bercerita mengingat masa lalu saat jenis makanan itu dulu dinikmati waktu kecil atau muda. Semua berjalan pulang dengan penuh kegembiraan. (umih)

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...