Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat memberikan Kuliah Umum di UIAD Sinjai (Suara ‘Aiyiyah.id)

Sinjai, Suara ‘Aisyiyah — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia memotivasi para civitas akademika UIAD untuk membangun budaya unggul dan memiliki daya saing di tingkat global. Caranya dengan menguatkan niat, mengasah karakter, ilmu pengetahuan, memiliki tradisi membaca, kemampuan berbahasa, dan membangun sistem kolektif yang kuat.

Bagi Haedar, kehadirannya di Sinjai ini memiliki nilai emosional tersendiri. Ia mengingat kembali pengalamannya sekitar 42 tahun lalu ketika masih menjadi mahasiswa. Saat itu, ia mendapat amanah dari PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) untuk membuka Musyawarah Wilayah IPM Sulawesi Selatan di kawasan tersebut.

“Kondisi Sinjai saat itu sangat berbeda dengan sekarang. Kawasan yang dahulu masih dikelilingi rawa dan relatif sepi kini telah berkembang, termasuk dengan hadirnya perguruan tinggi Muhammadiyah,” katanya.

Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa puluhan tahun kemudian dapat kembali ke tempat yang sama sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan terus mengalami perubahan, dan perubahan tersebut dapat dibangun melalui usaha manusia. Jika kita ingin membangun SDM yang unggul di tengah persaingan global, sejatinya kuncinya ada pada kita sendiri,” ujar Haedar.

Ia menuturkan, bahwa kemajuan mahasiswa, persyarikatan, umat Islam, maupun bangsa Indonesia sangat bergantung pada kemauan untuk melakukan perubahan dan meningkatkan kualitas diri. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan dalam Al-Qur’an bahwa perubahan suatu kaum berkaitan dengan perubahan oleh diri mereka sendiri.

Peradaban Tidak Terbentuk Secara Instan

Dalam kuliahnya, Haedar Nashir juga menekankan, bahwa sejarah peradaban dunia dibangun oleh orang-orang yang memiliki keunggulan dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan masyarakat.

Ia memberi contoh seperti Socrates, Plato, Aristoteles, serta tokoh-tokoh dalam sejarah Islam yakni Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khaldun.

“Bahwa peradaban tidak terbentuk secara instan. Peradaban lahir melalui proses panjang yang melibatkan perjuangan, ilmu pengetahuan, karakter, dan kontribusi dari manusia-manusia yang memiliki kualitas,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut juga menjadi pelajaran bagi mahasiswa. Bahwa mereka memiliki kesempatan untuk menjadi manusia unggul, terlepas dari latar belakang, maupun perguruan tinggi tempat mereka menempuh pendidikan.

“Keberhasilan seseorang sangat dipengaruhi oleh niat dan kesungguhan sejak awal. Mahasiswa yang memulai perkuliahan dengan kesungguhan, tentu akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang,” ujarnya.

Oleh sebab itu, ia mengingatkan para mahasiswa agar memiliki kebanggaan terhadap almamater, serta tidak menganggap remeh tempat mereka menuntut ilmu. Termasuk membangun karakter jujur, amanah, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab.

“Masyarakat maupun lembaga membutuhkan orang-orang yang memiliki integritas. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mempunyai akhlak dan karakter yang baik,” tandasnya.

Dia mengingatkan, agar mahasiswa datang ke perguruan tinggi bukan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi juga untuk memperoleh ilmu dan belajar memahami kehidupan.

“Mahasiswa harus terus meningkatkan pengetahuan, agar mampu bersaing secara sehat dengan orang lain. Perbanyaklah ilmu. Dan karena setiap orang memiliki jalan kesuksesan yang berbeda, sehingga tidak perlu menyamakan pencapaiannya dengan orang lain,” pesannya.

Dorong Penguasaan Bahasa Internasional

Ia juga menyoroti perkembangan teknologi informasi yang saat ini berlangsung sangat cepat. Jika seseorang tidak terus belajar dan membaca, pasti akan tertinggal. Maka ia mengajak seluruh mahasiswa untuk menguasai bahasa internasional, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“Penting juga untuk mempelajari bahasa negara-negara Asia Timur. Termasuk bahasa Mandarin, sebagai bagian dari kesiapan menghadapi persaingan global. Karena tradisi membaca dan kemampuan berbahasa, akan membuka kesempatan lebih luas bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan dan berinteraksi di tingkat internasional,” ujarnya.

Haedar menilai, masyarakat juga membutuhkan sistem kolektif yang kuat. Menurutnya, kemajuan tidak hanya ditentukan oleh individu, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk bekerja sama dan membangun sistem yang baik.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui menulis, membaca, dan terus berpikir merupakan bagian dari proses membangun kecerdasan masyarakat.

“Bahwa tidak ada keberhasilan yang terjadi secara instan. Setiap pencapaian membutuhkan niat, proses, kerja keras, ilmu, serta karakter yang kuat,” ungkapnya. (Waskitho Damaringtyas)-Nely

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:
Topik Terkait: #Muhammadiyah#Warta Persyarikatan

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...