Pengajian Dwi Ranting Putaran Ke-21 PCA Sewon Utara Ulas Kasus LGBTQ (Suara ‘Aisyiyah.id)
Bantul, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah menolak dan mengharamkan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Quier (LGBTQ), tapi tetap mendorong melalui pendampingan psikologi, dan lain-lain.
Hal itu disampaikan Sri Kushartati, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada Pengajian Dwi Ranting Putaran ke-21 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sewon Utara, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ahad, (20/9/2026).
Sri mengutarakan, bahwa LGBTQ adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Quier. Lesbian itu memiliki ketertarikan perempuan dengan perempuan. Kemudian Gay itu laki-laki memiliki ketertarikan dengan laki-laki.
“Sementara Biseksual itu memiliki ketertarikan kepada lebih dari satu jenis kelamin. Lalu transgender itu seseorang yang memiliki identitas atau ekspresi gender yang tidak sesuai dengan jenis kelamin biologis. Sedangkan Quier untuk yang identitasnya tidak jelas,” jelas Sri.
Ia mengingatkan, bahwa LGBTQ harus kita cegah. Sebagai contoh, banyak artis Korea yang mengakui bahwa gender mereka salah satu dari LGBTQ. “Ini perlu perlu kita perhatikan. Karena banyak anak-anak yang menyukai Korean, sehingga bisa jadi mereka mengikuti gaya hidup mereka,” ujar Sri.
Pentingnya Edukasi untuk Cegah LGBTQ
Sri Kushartati menjabarkan, bahwa pandangan psikologi terhadap LGBT itu ada perubahan. Sejak 1987 masih masuk ke gangguan jiwa. Lalu pada tahun 1990, WHO menyatakan bukan gangguan jiwa, tapi sebagai pilihan hidup.
Maka menurutnya, tantangan saat ini adalah digital. Karena sekarang sudah banyak games yang terselip tentang LGBTQ ini. Sehingga ia mengajak para orang tua untuk melakukan edukasi dari awal, caranya antara lain:
- Wajib mengenalkan siapa diri kita, apakah laki-laki atau perempuan.
- Rumah dan sekolah harus berperan, karena menjadi tempat pertama yang sering anak-anak jumpai.
- Penting menjaga kualitas kedekekatan keluarga sejak dini.
Sri mengingatkan, bahwa sekarang juga marak fatherless. Yakni tidak adanya peran ayah dalam tugas pengasuhan dan pendidikan anak. Sehingga anak tidak bisa mengidentifikasi bagiamana peran ayah (laki-laki) dalam kehidupan.
BACA JUGA
“Termasuk budaya turun temurun, yang menganggap tugas pengasuhan itu adalah ibu. Sementara kalau ada kesalahan, yang disalahkan adalah ibu. Kadang kalau anak perempuan melihat bapak memukul ibunya, jadi dia berasumsi kalau laki-laki itu jahat,” ucapnya.
Maka, menurutnya, kita perlu mengidentifikasi sejak dini, agar anak-anak jangan sampai terpapar LGBTQ, termasuk dari informasi digital. Dia pun menjabarkan cara-cara pencegahan di rumah :
- Mendampingi saat melihat medsos, bermain game, memberi batasan saat main HP
- Penguatan identitas dan role model dalam keluarga
- Pembiasaan genderitas yang baik di sekolah. Bisa dari cara bersuci, berinterkasi, berpakaian yang baik.
- Mengajarkan norma sopan santun dan bergaul dengan sosial
- Hubungan bergaul yang sehat menciptakan pribadi yang sehat pula.
Menurutnya, ada banyak penelitian yang membuktikan, bahwa anak yang sering dibacakan dongeng, dia akan lebih pintar matematika. “Biasakan anak-anak melakukan hal baik, dan jangan mengintrogasi,” ujarnya.
Diakhiri dengan Santunan Anak Yatim
Pengajian Dwi Ranting Putaran ke-21 ini melibatkan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Bangunharjo 1 dan 3. Pengajian berlangsung pada Ahad (20/9/26) di Pendopo Harjosuwito, Salakan RT 06, Bangunharjo, Sewon, Bantul. Acara dibuka dengan Tadarus Al-Qur’an membaca surah Al Baqarah ayat 161-165.
Siti Nurjanah, Ketua PRA Bangunharjo I sekaligus mewakili penyelenggara, mengucapkan terima kasih dan mohon maaf jika dalam penyelenggaraan kegiatan ini masih banyak kekurangan.
“Tema pengajian kali ini adalah LGBT, karena kasusnya sudah ada di Yogyakarta, bahkan sudah sampai di sekitar kita. Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul bersama dengan IMM, telah melakukan usaha untuk menanggulanginya kasus tersebut pada remaja,” ucapnya.
Sementara itu, Dwi Susilawati, Ketua PCA Sewon Utara menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara, serta seluruh peserta yang hadir. Dia mengatakan, kekhawatian terhadap LGBT ini nyata, sehingga gerakan harus dimulai dari keluarga, melalui pendidikan seperti salat, sedekah, dan lainnya. Hal ini untuk menanamkan karakter, kedisiplinan, moral dan akhlak.
Sedangkan Siti Fatimah, mewakili PDA Kabupaten Bantul mengatakan, bahwa materi kajian kali ini menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri bagi perempuan berkemajuan dengan update ilmu baru. Menurutnya, perempuan berkemajuan harus berada di garda terdepan dalam menyikapi permasalahan masyarakat.
Usai pengajian, acara dilanjutkan dengan Santunan Anak Yatim dari RSK (Rumah Santunan Keluarga) MKS PCA Sewon Utara. Ada 12 anak yatim dari PRA Panggungharjo 2,3 dan Bangunharjo 2,3, yang menerima santunan ini. (Jujuk dan Janah)-Nely
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.