Oleh: Arif Jamali Muis*
Seratus tahun lalu, ketika kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan masih sangat terbatas, aktivis ‘Aisyiyah justru mengambil langkah yang melampaui zamannya.
Mereka menerbitkan majalah Soeara ‘Aisjijah pada Oktober 1926, sebuah media yang tidak hanya menyediakan bacaan bagi perempuan, tetapi juga memberi ruang kepada mereka untuk menulis, berpikir, dan menyampaikan gagasannya sendiri.
Pada masa ketika suara perempuan belum banyak memperoleh tempat dalam kehidupan publik, kehadiran majalah ini merupakan ikhtiar penting untuk membuka jalan kemajuan melalui pengetahuan.
Kini, Oktober 2026, Suara ‘Aisyiyah genap berusia satu abad. Perjalanan panjang ini tentu patut disyukuri, terlebih tidak banyak media yang mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman, mulai dari masa kolonial, kemerdekaan, pergantian pemerintahan, hingga revolusi digital.
Namun, makna satu abad Suara ‘Aisyiyah tidak cukup dibaca dari panjang usianya. Yang lebih penting adalah bagaimana semangat yang melahirkannya tetap hidup dan menemukan relevansinya ketika masyarakat menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda.
Literasi sebagai Jalan Kemajuan
Kelahiran Suara ‘Aisyiyah tidak dapat dilepaskan dari gerakan pendidikan yang sejak awal menjadi perhatian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Setelah berdiri pada 1917, ‘Aisyiyah mengembangkan pendidikan anak usia dini, memperluas pemberantasan buta huruf, dan membangun berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan.
Penerbitan majalah pada 1926 menjadi bagian dari ikhtiar tersebut karena kemampuan membaca membutuhkan bahan bacaan, sedangkan pengetahuan memerlukan ruang untuk terus berkembang.
Menariknya, para aktivis ‘Aisyiyah tidak hanya menempatkan perempuan sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai penghasil dan penyebar gagasan.
Mereka menulis mengenai agama, pendidikan, keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, hingga persoalan kebangsaan. Melalui tulisan, perempuan diajak memahami keadaan masyarakat sekaligus memikirkan bagaimana kehidupan dapat diperbaiki.
Dalam konteks zamannya, langkah ini mempunyai makna yang mendalam. Literasi tidak dipahami sebatas kemampuan mengenali huruf, tetapi menjadi jalan untuk membangun kesadaran, kemandirian, dan keberanian mengambil peran dalam kehidupan.
Perempuan yang memperoleh kesempatan belajar tidak hanya diharapkan mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi bagi kemajuan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Di sinilah karakter Islam Berkemajuan sebagai ruh Gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menemukan salah satu wujud konkretnya. Ajaran agama tidak berhenti pada pengetahuan yang diwariskan, tetapi menggerakkan manusia untuk terus belajar dan menjawab persoalan kehidupan.
Suara ‘Aisyiyah menjadi bagian dari tradisi tersebut dengan menghadirkan ruang dialog antara nilai-nilai Islam, perkembangan ilmu pengetahuan, dan realitas sosial yang terus berubah.
Ketika Tantangan Literasi Berubah
Seratus tahun kemudian, dunia yang dihadapi Suara ‘Aisyiyah telah berubah secara mendasar. Jika pada 1926 persoalan besarnya adalah keterbatasan akses terhadap bacaan dan pendidikan, hari ini masyarakat justru hidup dalam kelimpahan informasi.
Melalui telepon genggam, setiap orang dapat mengakses jutaan tulisan, gambar, dan video, bahkan menghasilkan konten dengan bantuan kecerdasan artifisial dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu sejalan dengan kemampuan memahami persoalan secara mendalam. Informasi yang beredar sering kali bercampur antara fakta, opini, prasangka, dan kepentingan tertentu.
BACA JUGA
Algoritma media sosial cenderung menghadirkan informasi berdasarkan perhatian dan kebiasaan penggunanya, sementara popularitas sebuah informasi tidak selalu mencerminkan kebenarannya.
Perubahan ini menghadirkan tantangan baru bagi gerakan literasi. Masyarakat tidak lagi cukup dibekali kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan mempertanyakan, membandingkan, memeriksa kebenaran, dan memahami makna informasi bagi kehidupan.
Apalagi, perkembangan kecerdasan artifisial memungkinkan mesin menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan, meskipun isinya belum tentu benar. Karena itu, perjuangan literasi yang dirintis Suara ‘Aisyiyah seabad lalu memerlukan perluasan makna.
Jika dahulu perempuan diperjuangkan agar mampu membaca dunia melalui aksara, hari ini mereka perlu semakin diperkuat agar mampu memahami dunia di tengah derasnya informasi. Kemajuan tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dapat diakses, tetapi seberapa bijaksana pengetahuan tersebut digunakan.
Menemukan Peran pada Abad Kedua
Memasuki abad kedua, tantangan terbesar Suara ‘Aisyiyah bukan semata-mata bagaimana mempertahankan penerbitan majalah di tengah perubahan perilaku pembaca.
Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga keberadaannya sebagai ruang intelektual yang memberi arah bagi kemajuan perempuan dan masyarakat.
Dalam konteks ini, Suara ‘Aisyiyah perlu terus berkembang dari media yang menyampaikan informasi menjadi ruang yang mempertemukan pemikiran, pengalaman, dan gagasan perempuan lintas generasi.
Persoalan pendidikan, pengasuhan anak, kesehatan, ekonomi keluarga, lingkungan, ketimpangan sosial, hingga dampak teknologi digital membutuhkan pembahasan yang jernih, kritis, dan berpijak pada nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Generasi perempuan muda juga perlu memperoleh ruang yang semakin luas untuk menyampaikan pandangannya. Mereka tumbuh dalam lingkungan sosial dan teknologi yang berbeda dari generasi sebelumnya, sehingga memiliki pengalaman, pertanyaan, dan tantangan yang juga berbeda.
Menghadirkan mereka bukan sekadar strategi memperluas pembaca, melainkan bagian dari upaya memastikan bahwa Suara ‘Aisyiyah tetap menjadi tempat lahirnya gagasan baru. Tentu, transformasi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Namun, digitalisasi tidak cukup dimaknai sebagai memindahkan majalah cetak ke layar telepon genggam atau memperbanyak unggahan media sosial. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem pengetahuan yang memungkinkan gagasan Suara ‘Aisyiyah dibaca, didiskusikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Satu abad arsip Suara ‘Aisyiyah juga merupakan kekayaan intelektual yang sangat berharga. Di dalamnya tersimpan jejak perubahan pemikiran perempuan, dinamika pendidikan, perkembangan masyarakat, dan perjalanan bangsa.
Mengolah warisan tersebut menjadi sumber pembelajaran dan penelitian dapat menjadi sumbangan penting Suara ‘Aisyiyah bagi generasi mendatang.
Memasuki abad kedua menuntut keberanian yang sama seperti ketika majalah ini pertama kali diterbitkan. Keberanian membaca kebutuhan zaman, membuka ruang bagi pemikiran baru, dan menjadikan pengetahuan sebagai jalan perubahan sosial.
Bentuk media boleh berubah, tetapi cita-cita yang melahirkannya tidak boleh kehilangan arah. Seratus tahun lalu, Suara ‘Aisyiyah hadir untuk membuka jalan perempuan mengenal dunia melalui aksara.
Kini, ketika aksara hadir hampir tanpa batas melalui teknologi, Suara ‘Aisyiyah mempunyai tanggung jawab sejarah untuk membantu manusia menemukan makna di balik informasi.
Sebab ukuran keberhasilannya pada abad kedua bukan hanya seberapa luas suaranya terdengar, melainkan seberapa jauh gagasannya ikut mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.
*Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.