Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah — Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta melaunching Griya Sahabat Lansia Istiqomah di Gedung Dakwah Prawirodirjan pada Ahad (4/10/2026).
Peluncuran tersebut berlangsung dalam Pengajian Rutin PRA
Prawirodirjan bertema “Menuju ‘Aisyiyah Unggul dan Berkemajuan”. Griya Sahabat
Lansia ini merupakan ikhtiar untuk merawat, memberdayakan, sekaligus menjaga
martabat para lanjut usia di tengah masyarakat.
Ketua PRA Prawirodirjan, Siti Bakhriyatie, mengingatkan
bahwa gerakan yang dilakukan hari ini tidak lahir tiba-tiba. Ia merupakan
bagian dari perjalanan panjang ‘Aisyiyah Prawirodirjan yang telah berlangsung
puluhan tahun.
Ia menyampaikan, bahwa ‘Aisyiyah Prawirodirjan berdiri pada
19 Syawal 1347 H, bertepatan dengan 31 Maret 1929. Secara hitungan Hijriah,
perjalanan organisasi tersebut telah memasuki lebih dari satu abad, sedangkan
berdasarkan kalender Masehi telah mencapai 97 tahun.
“Sejarah panjang ini jangan hanya kita kenang. Justru harus
menjadi energi untuk meneruskan amal dan menghadirkan kemaslahatan bagi
masyarakat,” ujar Siti.
Menurutnya, program ‘Aisyiyah harus terus diarahkan pada
kemaslahatan umum sekaligus menjadi sarana syiar persyarikatan. Pengajian rutin
menjadi salah satu program unggulan, tetapi gerakan tidak boleh berhenti pada
kegiatan seremonial.
Karena itu, PRA Prawirodirjan mulai merintis Griya Sahabat
Lansia Istiqomah dengan memanfaatkan rumah wakaf milik Hj. Hasanah Kastolani,
yang lokasinya bersebelahan dengan Gedung Dakwah Muhammadiyah Prawirodirjan.
Harapannya, kepedulian terhadap lansia bukan sekadar program
sosial, melainkan bagian dari upaya menghadirkan gerakan yang benar-benar
menyentuh kehidupan sehari-hari.
“Di tengah bertambahnya usia, lansia butuh didengar,
ditemani, diperhatikan kesehatannya, dan diberi ruang untuk terus
berkontribusi. Semoga Griya Sahabat Lansia Istiqomah dapat menjadi tempat
bertemu antara kepedulian dan pemberdayaan,” ucapnya.
Menurutnya, pilihan gerakan pada isu lansia ini bukan tanpa
alasan. Karena di tengah masyarakat yang semakin dinamis, keberadaan lansia
membutuhkan perhatian yang bukan hanya bersifat sosial, tetapi juga menyentuh
aspek kesehatan, kebersamaan, dan kebermaknaan hidup.
Membangun Kepedulian Nyata untuk Lansia
Sementara itu, Ketua PRM Prawirodirjan, Wawan Budiyanto,
menyambut baik keberadaan Griya Sahabat Lansia Istiqomah.
Baginya, keberadaan griya tersebut dapat menjadi ruang
bersama untuk membangun kepedulian terhadap lansia secara lebih nyata.
BACA JUGA
“Kami mendukung keberadaan Griya Sahabat Lansia ini. Ke
depan, kami juga menyiapkan klinik kesehatan bekerja sama dengan PDM Kota
Yogyakarta. Harapannya, perhatian kepada lansia tidak hanya dalam bentuk
kegiatan, tetapi juga pelayanan yang benar-benar mereka butuhkan,” ungkap
Wawan.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan lansia membutuhkan kerja bersama. ‘Aisyiyah bergerak melalui penguatan komunitas, Muhammadiyah membuka ruang dukungan kelembagaan, sementara jejaring perguruan tinggi dan layanan kesehatan dapat memperkuat aspek teknisnya.
Jamaluddin Ahmad, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan
Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam pengajian inti mengupas
QS Al-Ahqaf ayat 15.
Ia mengajak jamaah merefleksikan lima hal yang menjadi jalan
menuju kehidupan yang dirahmati Allah SWT.
Pertama, banyak bersyukur. Kedua, senantiasa
berbuat kebaikan yang diridai Allah. Ketiga, membangun keturunan yang
saleh dan salehah. Keempat, ketika melakukan kesalahan, segera mengingat
Allah dan bertaubat. Kelima, terus berusaha menjadi orang yang benar.
Menurutnya, pesan tersebut relevan dengan gerakan ‘Aisyiyah.
Karena kemajuan organisasi bukan hanya diukur dari banyaknya program, tetapi
seberapa jauh program tersebut mampu melahirkan kebaikan dan perubahan dalam
kehidupan masyarakat.
Berkebun, Menanam Harapan
Usai pengajian, suasana berubah menjadi lebih cair. Para peserta mengikuti gerakan “Ayo Berkebun – Subur Makmur” dengan menanam berbagai bibit sayuran, seperti cabe, tomat, daun mint, bayam Brasil, terong, dan seledri.
Kegiatan sederhana itu membawa pesan yang tidak sederhana: bahwa gerakan pemberdayaan dapat dimulai dari apa yang tersedia di sekitar. Ia juga menjadi cara untuk membangun interaksi, menjaga lingkungan, mengisi aktivitas lansia, sekaligus menumbuhkan kemandirian pangan dalam skala keluarga dan komunitas.
Tak hanya itu, PRA Prawirodirjan juga menghadirkan kepedulian terhadap kesehatan melalui pemeriksaan kesehatan bagi peserta pengajian bekerja sama dengan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.
Di sektor ekonomi anggota mendapat ruang melalui Warung Saudagar Anggota ‘Aisyiyah. Berbagai produk rumahan diperkenalkan kepada peserta, mulai dari dawet hitam, jus, jamu, dan aneka produk lainnya.
Warung tersebut bukan sekadar pelengkap acara. Ia menjadi etalase kecil yang memperlihatkan bahwa di balik gerakan ‘Aisyiyah terdapat banyak perempuan yang memiliki keterampilan, usaha, dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.