Surakarta, Suara ‘Aisyiyah - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah menggelar Training of Trainer (TOT) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Dapur Umum, dan Dukungan Psikososial.
Kegiatan ini berlangsung pada Jumat-Sabtu, (2–3/10/2026) di Pesantren Mahasiswa (Pesma) Internasional KH. Mas Mansur, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hadir perwakilan LLHPB Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Kabupaten Kudus mengirimkan empat delegasi, yakni tiga perwakilan LLHPB PDA Kabupaten Kudus dan satu perwakilan Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Kudus.
Keikutsertaan delegasi Kudus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kader dan tenaga pendidik dalam menghadapi situasi kebencanaan, mulai dari mitigasi, penanganan kondisi darurat, hingga pemberian dukungan psikososial bagi penyintas. Dalam sambutannya, Ketua LLHPB PWA Jawa Tengah, Lilik Tri P menekankan pentingnya peran guru dan kader ‘Aisyiyah dalam menanamkan budaya kesiapsiagaan bencana sejak dari lingkungan sekolah.
“Bencana bisa datang kapan saja. Sekolah, madrasah, dan TK ABA harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Karena itu, TOT ini diharapkan melahirkan trainer yang mampu meneruskan pengetahuan dan keterampilannya di sekolah maupun madrasah masing-masing,” ujar Lilik Tri P. Menurutnya, keberadaan trainer di setiap daerah menjadi salah satu kunci agar konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana tidak berhenti pada pemahaman teoritis, melainkan benar-benar diterapkan dalam tata kelola dan kegiatan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Selama dua hari, peserta mendapatkan pembekalan dalam tiga bidang utama, yaitu SPAB, pengelolaan dapur umum saat bencana, serta dukungan psikososial bagi penyintas. Pada materi SPAB, peserta mempelajari kebijakan pendidikan aman bencana, penyusunan kajian risiko di lingkungan sekolah, pembentukan tim siaga, penetapan jalur evakuasi dan titik kumpul, hingga pelaksanaan simulasi evakuasi mandiri yang melibatkan guru serta peserta didik.
Peserta juga dibekali keterampilan pengelolaan dapur umum dalam situasi darurat. Materi mencakup pengelolaan logistik pangan, pemenuhan standar gizi dan kebersihan makanan, teknik memasak dalam jumlah besar, serta mekanisme distribusi makanan bagi masyarakat terdampak bencana.
BACA JUGA
Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian teori. Peserta juga mengikuti praktik langsung untuk memahami tahapan operasional dapur umum sehingga mampu menerapkannya ketika menghadapi kondisi kedaruratan di wilayah masing-masing. Sementara itu, sesi dukungan psikososial difokuskan pada penanganan awal terhadap kondisi psikologis penyintas, terutama anak-anak. Peserta dikenalkan pada teknik Psychological First Aid (PFA), komunikasi pendampingan awal, serta metode bermain dan bercerita untuk membantu anak memperoleh kembali rasa aman setelah mengalami bencana.
Ketua IGABA Kabupaten Kudus, Sittayah, yang turut menjadi peserta, menilai materi TOT sangat relevan dengan kebutuhan guru pendidikan anak usia dini. “Materi ini sangat penting bagi kami di Kudus karena setiap hari kami mendampingi anak-anak usia dini. Guru tidak hanya perlu mengetahui cara mengevakuasi anak dengan aman, tetapi juga bagaimana menenangkan mereka ketika menghadapi situasi bencana,” kata Sittayah. Ia menjelaskan, anak usia dini membutuhkan pola penanganan yang berbeda dengan orang dewasa dalam kondisi darurat. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh dari TOT akan diteruskan kepada guru-guru TK ABA di Kabupaten Kudus.
“InsyaAllah, hasil TOT akan kami tindak lanjuti melalui sosialisasi SPAB kepada TK ABA se-Kabupaten Kudus agar para guru semakin siap dalam melindungi anak-anak ketika terjadi bencana,” lanjutnya. Pada akhir kegiatan, setiap delegasi menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk komitmen penerapan hasil pelatihan di daerah masing-masing. Ketua LLHPB PDA Kabupaten Kudus, Endang Handayani, mengatakan pihaknya akan mendorong implementasi hasil TOT melalui kolaborasi antara LLHPB, IGABA, dan satuan pendidikan ‘Aisyiyah di Kabupaten Kudus.
Menurut Endang, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta tidak boleh berhenti pada individu yang mengikuti pelatihan, tetapi harus disebarluaskan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak sekolah. “Delegasi Kudus diharapkan menjadi motor penggerak terwujudnya sekolah dan TK ‘Aisyiyah yang aman bencana. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya bersama, mulai dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga seluruh lingkungan sekolah,” ungkapnya. Ia menambahkan, sinergi antara LLHPB dan IGABA merupakan modal penting untuk memperkuat ketangguhan satuan pendidikan dalam menghadapi bencana. Sekolah tidak hanya diharapkan memahami risiko bencana, tetapi juga memiliki prosedur, sumber daya manusia, dan keterampilan yang dapat langsung digunakan ketika situasi darurat terjadi.
Gerakan Satuan Pendidikan Aman Bencana di lingkungan ‘Aisyiyah Kabupaten Kudus diharapkan semakin meluas, khususnya pada TK ABA dan sekolah yang menjadi ruang tumbuh, belajar, dan beraktivitas bagi anak-anak.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.