Oleh: Ahsan Jamet Hamidi*

“Dik, begitu kita menikah, kita akan tinggal selama beberapa hari di rumah orang tua. Setelah itu, kita akan mengontrak rumah dan hidup bersama dengan apa adanya”

Begitulah tawaran saya kepada calon istri saat kami menetapkan diri untuk membangun rumah tangga bersama. Tekad itu harus saya ikrarkan sejak awal, dengan harapan ada kemudahan dalam praktiknya nanti.

Mengapa begitu?

Karena istri saya adalah anak tunggal yang seumur hidupnya tidak pernah menjadi anak kos, dengan pengalaman seperti yang saya alami selama puluhan tahun. Ia juga tidak pernah punya pengalaman berkonflik dengan adik atau kakak untuk berebut mainan di masa kecilnya.

Hal itu sangat kontras dengan latar belakang kehidupan saya. Sejak tamat sekolah dasar, saya langsung masuk Pondok Gontor, bergumul dengan ribuan santri lain dan hidup di asrama dengan berbagai dinamikanya.

Status sebagai anak kos itu berlanjut terus saat menjadi mahasiswa dan bekerja secara mandiri. Sejak menikah, saya naik kelas dari anak kos menjadi anak kontrakan.

Sungguh, tidak selalu mudah ketika memutuskan untuk menikahi perempuan anak tunggal yang memiliki latar belakang kehidupan sangat bertolak belakang. Hal itu berlaku baik bagi istri maupun bagi saya sendiri.

Namun, keteguhan untuk menerapkan prinsip kesalingan yang sudah kami bulatkan, alhamdulillah, telah menuntun biduk rumah tangga kami hingga bisa berjalan dengan seluruh dinamikanya.

Setelah satu tahun menjalani rumah tangga sebagai pasangan, tiba-tiba ayah mertua saya meninggal dunia.

Setelah itu, ibu mertua saya mau tidak mau harus tinggal di rumah kontrakan kami yang tentu saja serba apa adanya. Semuanya berlangsung dalam kondisi darurat.

Apakah ibu mertua saya merasa nyaman hidup bersama anak, menantu, dan cucunya? Saya tidak pernah benar-benar tahu.

Yang pasti, semuanya berjalan hingga rumah tangga kami berusia lebih dari 24 tahun dan ibu mertua masih sehat hingga usia 90 tahun sekarang.

Jalan yang Sama, Beda Akibatnya

Pengalaman berbeda dialami oleh teman satu tongkrongan saya dulu. Kami menikah hampir dalam waktu yang bersamaan.

Setelah punya anak, ibu dan bapak mertuanya merasa sangat sayang kepada cucu pertama mereka. Rasa sayang itu kemudian diwujudkan dengan berpindah rumah, membawa seluruh kehidupan mereka untuk mengikuti sang cucu.

Sepintas, teman saya dan istrinya bisa leluasa bekerja tanpa harus merasa khawatir dengan kondisi anaknya. Semua sudah selesai diurus oleh mertua yang masih lengkap, lelaki dan perempuan, yang kebetulan sudah pensiun dari pekerjaan.

Sebagaimana perjalanan rumah tangga yang saya jalani, meski tujuan sudah terasa jelas, arah dan jalan menuju harapan ternyata tidak selalu mudah dikendalikan oleh pelakunya.

Di balik rasa aman karena sang anak sudah dirawat sepenuhnya oleh mertua, ternyata masalah lain yang menyertai biduk rumah tangga juga sedikit demi sedikit muncul.

Wujudnya beragam, mulai dari hal-hal kecil, seperti kebiasaan bangun siang, tidak mematikan AC, membiarkan rumah berantakan, membiarkan cucian menumpuk, kurang merawat kendaraan, hingga cara menata ruangan dan merawat tanaman.

Ibu dan bapak mertua merasa bahwa budaya berumah tangga dan kebiasaan yang selama ini mereka bangun adalah kebiasaan yang baik.

Namun, kebiasaan itu kini sama sekali tidak terlihat dalam budaya rumah tangga anak dan menantu mereka. Bahkan, dalam praktiknya, jauh sekali dari apa yang telah mereka terapkan selama ini.

Mungkin, jika perbedaan itu bisa dimaklumi oleh masing-masing pihak, semua akan berjalan baik-baik saja.

Masalah baru mulai muncul ketika ibu dan bapak mertua mulai menilai, menegur, dan sedikit memaksa bahwa standar rumah tangga yang baik adalah persis seperti yang mereka terapkan selama ini.

Sementara itu, anak dan menantu merasa harus memiliki kemerdekaan dalam mengatur rumah tangga sesuai dengan kebiasaan dan budaya yang sudah mereka bangun selama ini. Akibatnya bisa dibayangkan.

Rasa tidak nyaman tinggal di rumah sendiri mulai terasa. Akibatnya, teman saya sengaja pulang kerja agak larut sehingga rasa lelah memaksanya buru-buru tidur pulas.

Lalu, pagi-pagi sekali, ia segera meninggalkan rumah agar lebih awal datang ke kantor. Lebih parah lagi, ia mulai merasakan bahwa komunitas kantor dan pergaulan dengan teman-temannya yang masih bujang terasa jauh lebih nyaman daripada tinggal di rumah sendiri.

Meski rumah tangga saya juga diikuti oleh ibu mertua, saya merasa lebih beruntung. Mungkin, sejak awal, ibu mertua saya paham bahwa anak perempuannya adalah anak tunggal dan sekarang sudah membangun rumah tangga dengan lelaki lain yang memiliki budaya hidup jauh berbeda dengan dirinya.

 Perbedaan itu mau tidak mau harus ia toleransi. Tidak heran jika ibu mertua saya lebih banyak diam dan berusaha membangun keasyikan sendiri dalam batas yang sangat jelas, yaitu di ruang privatnya sendiri.

Saya menyediakan kamar yang cukup luas untuknya, lengkap dengan kamar mandi, televisi, dan kipas angin yang membuatnya bisa menikmati waktu pribadinya dengan nyaman.

Dari sisi saya dan istri pun, kami juga berusaha membuka ruang permakluman seluas-luasnya. Ketika mertua mengeluh karena gaya hidup saya yang berantakan dan sama sekali tidak sesuai dengan budaya hidupnya, kami masing-masing berusaha memaklumi.

Hikmah yang Saya Petik

Hikmah yang saya petik dari perjalanan rumah tangga saya dan teman baik saya adalah bahwa di dalam rumah tangga, kita boleh dan mungkin harus menetapkan cita-cita baik sesuai dengan harapan sebuah pasangan.

Namun, dalam praktiknya, kita tidak sepenuhnya bisa mengontrol dan mengendalikan arah perjalanan rumah tangga agar sesuai dengan skenario kita sendiri. Kita boleh punya perencanaan dan harapan yang ideal.

Namun, terkadang kita juga harus menyediakan ruang untuk memaklumi, memahami, membiarkan, hingga menoleransi semua yang terjadi di luar harapan. Sebab, budaya baik yang dibangun oleh setiap pasangan tetap akan dibatasi oleh waktu dan tempat.

Jadi, persoalannya bukan hanya terletak pada realitas adanya keluarga inti seperti suami-istri, mertua, dan kerabat yang ikut tinggal dalam satu rumah dengan kita.

Bukan semata itu saja, tetapi bagaimana memperkuat niat di dalam batin dan perasaan kita sendiri, lalu menyediakan ruang permakluman dan toleransi yang cukup luas.

Perjalanan hidup ini bisa berubah kapan dan di mana saja. Kesadaran kita sebagai “hamba” yang harus tunduk pada ketentuan Allah adalah yang utama.

 Di akhir cerita, saya berdoa, Ya Allah, saya merindukan cucu yang tubuh mungilnya berbau bedak dan minyak telon, dengan aroma asam di mulutnya setelah mengecap air susu ibunya. Semoga di masa tua nanti saya tidak merepotkan orang lain. Amin.

*Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangerang Selatan

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...