Oleh: Muhammad Khalaf Fadlurrahman*
Pernikahan pada dasarnya merupakan keputusan besar dalam kehidupan seseorang. Ia bukan sekadar perubahan status, tetapi juga awal dari kehidupan bersama yang melibatkan kepercayaan, tanggung jawab, dan berbagai harapan.
Namun, bagaimana jika seseorang memutuskan untuk menikah bukan semata-mata karena kesiapan dan keinginan membangun kehidupan bersama, tetapi juga karena tekanan keluarga dan lingkungan sosial?
Pertanyaan tersebut dapat membawa kita pada sebuah istilah yang belakangan semakin banyak diperbincangkan, yaitu lavender marriage. 

Istilah ini merujuk pada pernikahan yang dilakukan oleh dua orang, ketika salah satu atau keduanya memiliki orientasi seksual yang tidak sesuai dengan ekspektasi sosial terhadap pernikahan tersebut.
Dalam konteks sejarah, istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan pernikahan laki-laki dan perempuan yang dilakukan bukan semata-mata karena hubungan romantis, tetapi juga untuk menyembunyikan orientasi seksual, menjaga reputasi, atau mempertahankan citra sosial tertentu.
Namun, membicarakan lavender marriage seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang orientasi seksual. Fenomena ini juga mengajak kita melihat persoalan yang lebih luas: seberapa besar tekanan sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menikah?

Pernikahan Bukan untuk Memenuhi Ekspektasi Sosial


Dalam masyarakat yang menempatkan pernikahan heteroseksual sebagai salah satu standar kehidupan yang ideal, seseorang dapat menghadapi tekanan untuk segera menikah demi memenuhi harapan orang tua, menjaga kehormatan keluarga, atau memperoleh penerimaan sosial. 

Pernikahan kemudian tidak hanya menjadi keputusan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari ekspektasi keluarga dan masyarakat.
Kita mungkin sering mendengar pertanyaan seperti, “Kapan menikah?”, “Sudah punya calon?”, atau “Masa sudah sebesar ini belum menikah?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tampak sederhana dan bahkan sering disampaikan sebagai bentuk perhatian.
Namun, ketika terus-menerus diberikan, ia dapat berubah menjadi tekanan. Tidak semua orang memiliki kesiapan dan perjalanan hidup yang sama. Keputusan untuk menikah semestinya tidak hanya didasarkan pada usia, status sosial, atau keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.
Di sinilah lavender marriage menjadi menarik untuk direnungkan. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa ketika tekanan sosial terhadap pernikahan menjadi sangat kuat, seseorang dapat menghadapi pilihan yang sulit antara menjalani kehidupan sesuai dengan dirinya atau mengikuti tuntutan lingkungan.
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika keputusan tersebut melibatkan orang lain yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya. Jika salah satu pihak memasuki pernikahan tanpa mengetahui alasan atau keadaan yang mendasari keputusan pasangannya, kehidupan rumah tangga dapat menghadapi berbagai persoalan di kemudian hari.
Karena itu, persoalan utama yang perlu kita refleksikan bukan hanya tentang siapa yang menikah dengan siapa, tetapi juga tentang kejujuran dan keterbukaan dalam membangun rumah tangga. Pernikahan melibatkan dua orang yang memiliki hak untuk mengetahui dan memahami berbagai hal penting yang berkaitan dengan kehidupan bersama.
Ketika pernikahan dibangun terutama untuk memenuhi tuntutan sosial atau menutupi sesuatu yang sangat mendasar, kita perlu bertanya apakah keluarga yang dibangun dengan cara demikian dapat menghadirkan kehidupan yang sehat bagi kedua belah pihak.

Mempersiapkan Diri Sebelum Pernikahan


Dalam perspektif keluarga, persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap seseorang untuk menikah tidak selalu menghasilkan kebaikan.
Keluarga tentu memiliki harapan agar anaknya menikah dan membangun kehidupan yang baik. Namun, harapan tersebut sebaiknya tidak berubah menjadi tekanan yang mengabaikan kesiapan, kondisi, dan pilihan hidup anak.
Pendidikan tentang pernikahan juga perlu diarahkan tidak hanya pada bagaimana menjadi suami atau istri yang baik setelah menikah. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang mempersiapkan diri sebelum menikah: memahami tanggung jawab, mengenali kesiapan diri, mampu berkomunikasi secara terbuka, dan menghargai hak calon pasangan.
Dalam kehidupan beragama, pernikahan juga bukan sekadar status sosial. Ia merupakan amanah yang menuntut tanggung jawab, kepercayaan, dan kesediaan untuk menjalani kehidupan bersama. 

Karena itu, keputusan untuk menikah semestinya lahir dari kesadaran dan kesiapan, bukan semata-mata karena takut terhadap penilaian masyarakat.


Pada akhirnya, lavender marriage dapat menjadi cermin bagi kita untuk melihat kembali bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang belum menikah, bagaimana keluarga menyampaikan harapan kepada anak, dan bagaimana kita memahami makna pernikahan itu sendiri.
Fenomena ini tidak cukup dilihat hanya sebagai persoalan orientasi seksual atau bentuk pernikahan tertentu. Ia juga memperlihatkan bagaimana norma sosial, keluarga, budaya, dan tekanan lingkungan dapat memengaruhi keputusan paling personal dalam kehidupan seseorang.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dari “Mengapa seseorang belum menikah?” menjadi “Apakah ia sudah siap menjalani pernikahan?” Sebab, pernikahan bukan perlombaan yang harus dimenangkan karena tuntutan usia atau lingkungan.
Pernikahan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap pasangan.
Dengan demikian, membicarakan lavender marriage pada akhirnya bukan hanya tentang fenomenanya, tetapi juga tentang bagaimana kita menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat dalam memandang pernikahan.
*Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama, Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo.

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...