Brebes, Suara ‘Aisyiyah - Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Brebes Jawa Tengah menggelar Pembekalan Mubalighah pada Ahad, (27/9/2026) pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Kegiatan ini sebagai tindak lanjut bagi para peserta yang telah mengikuti Pelatihan Mubalighah oleh Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Brebes pada Oktober tahun 2025 lalu.
Tujuannya agar Pimpinan Cabang dan Ranting semangat untuk melakukan dakwah, serta memiliki jiwa percaya diri dalam berdakwah.
Kegiatan bertempat di Gedung Tempat Penitipan Anak (TPA) PDA Kabupaten Brebes. Hadir 10 peserta dari PCA, 5 perwakilan dari 16 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) se-Cabang Brebes, sehingga total peserta ada 90 orang.
Mendorong Peran Mubalighah
Ketua MTK PDA Brebes, Supriyatin, dalam sambutannya berharap, agar hasil dari pelatihan mubalighah bisa dipraktekkan untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan kerja. Termasuk di organisasi, bangsa, dan bernegara.
“Sebab era sekarang ini, pengajian banyak dihadiri oleh kaum perempuan, tetapi kebanyakan narasumbernya adalah bapak-bapak (mubaligh). Sementara terkadang ada hal-hal penting, yang mubalighah itu harus mengambil peran,” ujarnya.
Dia memberikan contoh kasus di Brebes, bahwa angka perceraian semakin meningkat, kasus stunting juga tinggi. Maka menurutnya, peran mubalighah sangat dibutuhkan untuk membina masyarakat agar memiliki pemahaman keagamaan yang lebih baik.
“Mubalighah jangan tidur. Mari kita ambil bagian. Bersemangat untuk berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, menciptaan kehidupan berkeluarga agar tetap harmonis,” ajaknya.
Daiyah Aisyiyah Harus Mencerahkan
Narasumber pertama, Nok Uripah, Wakil Ketua 1 PDA Brebes menjelaskan, bahwa acara pembekalan mubalighah ini diselenggarakan, mengingat pelatihan mubalighah sudah hampir 1 tahun, tetapi belum ada kerja nyata.
“Maka program pembekalan ini untuk menguatkan kapasitas daiyah ‘Aisyiyah agar mampu menyampaikan dakwah yang relevan, mencerahkan, dan sesuai dengan karakter organisasi,” ucapnya.
Ia pun mengulas tentang penguatan ideologi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Risalah Perempuan Berkemajuan (RPB), Manhaj Tarjih, dan Manhaj Tabligh.
“Mari kita refleksikan dalam kehidupan dengan memenuhi 7 karakter, yaitu iman dan takwa, taat beribadah, akhlak karimah, berfikir tajdid, bersikap washatiyah, amaliah salehah, dan sikap inklusif,” ajaknya.
Dia berharap, agar itu semua tidak hanya menjadi teori, tetapi dibuktikan dengan sikap, perbuatan dan kata-kata.
“Di kala keluarga sedang menghadapi masalah ekonomi, kesulitan dalam mendidik anak, maka peran istri sangat dibutuhkan untuk memberikan penguatan dalam keluarga, saling tolong menolong, dan terbuka. Sehingga masalah akan bisa diselesaikan dengan baik,” ungkapnya.
BACA JUGA
Hadirkan Dakwah yang Inklusif
Selanjutnya, narasumber kedua adalah Siti Bariroh. Ia mengulas tentang penerapan metode dakwah yang damai, terbuka (inklusif), bersifat wasathiyah, dan tidak merasa kelompoknya paling benar.
“Dakwah harus berakar pada semangat amar maruf nahi munkar. Menghadirkan kedamaian, pencerahan (tajdid), inklusif, serta berkemajuan. Dakwah itu bukan hanya untuk orang lain, tetapi yang paling penting adalah untuk diri sendiri, teladan bagi keluarga, dan yang lain,” katanya.
Ia pun mengutip al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6. ”Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia, dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Ia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Menurut Bariroh, dakwah itu diperintahkan kepada semua umat Islam agar terhindar dari siksa api neraka, dan dakwah itu wajib dilakukan oleh semua orang Islam.
“Apabila semua orang Islam memiliki kesadaran yang tinggi dalam berdakwah, maka kehidupan akan nyaman, tenteram, dan terwujud masyarakat yang sebenar-benarnya, yang diridai oleh Allah SWT,” ucapnya.
Dia juga menjelaskan, prinsip dakwah ada 3, yakni bil hikmah (dengan bijaksana), mauidhah hasanah (dengan kata-kata yang baik), dan mujadalah (saling sharing).
“Karena mubaligh adalah kader terdepan organisasi, maka tidak hanya dituntut untuk mahir berbicara, tetapi juga harus mampu membawa perubahan nyata, menghadirkan tabligh transformatif di masyarakat,” imbunya.
Ada beberapa aspek yang menjadi bekal utama Mubalighoh Aisyiyah, yakni karakter Islam berkemajuan, berlandaskan tauhid, bersumber Al-Qurán dan As-Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan washatiyah, mewujudkan kerahmatan.
Ia juga mengulas kepribadian dan watak mubalighah Aisyiyah ada 3 kunci dakwah pencerahan, yaitu:
- Tahrir (membebaskan); membebaskan dari kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan dan yang lainnya.
- Taqwiyah (memberdayakan); membina komunitas agar mandiri secara ekonomi, sosial dan keagamaan.
- Taqdim (memajukan); dakwah yang berorientasi pada masa depan, keunggulan, dan modernisasi kehidupan.
“Maka mubalighah ‘Aisyiyah harus inovatif, produktif, dan kompetitif dengan dasar nilai-nilai Islam berkemajuan,” ujarnya.
Usai materi, acara dilanjutkan dengan praktik dakwah, public speaking, dan membuat teks dakwah. Para peserta dibagi menjadi 9 kelompok dengan 1 penilai.
Usai pelatihan, para peserta juga harus melaksanakan Rencana Tindak Lanjut (RTL), sehingga tidak berhenti di pelatihan, namun dakwah nyata bisa dirasakan kehadirannya di pengajian, majelis taklim, ranting, PKK, maupun di tempat dinas. (Siti Bariroh)-Nely
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.