Perempuan Mengaji program MTK PP ‘Aisyiyah
Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah — Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menggelar kegiatan Perempuan Mengaji bertema “Literasi Digital: Jihad Keilmuan Perempuan Melawan Disinformasi” pada Senin (28/9/2026).
Kegiatan berlangsung secara hybrid, yakni luring di Kantor PP ‘Aisyiyah Yogyakarta dan daring melalui Zoom Meeting. Para peserta merupakan perwakilan dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) se-Indonesia.
Hadir sebagai narasumber adalah Kholifah Fauziah, Anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah. Dalam paparannya, Kholifah mengaitkan perintah wasari’u dalam QS. Ali Imran ayat 133 dengan tantangan di ruang digital.
Menurutnya, perintah wasari’u atau bersegera menuju ampunan dan surga berarti juga bersegera mengisi ruang digital dengan kebenaran, sebelum ruang tersebut berisi penuh disinformasi. Ia menyebut, hal ini sebagai jihad keilmuan perempuan ‘Aisyiyah.
Ia pun menguraikan empat sifat orang bertakwa dalam ayat tersebut dan ia korelasikan dengan dunia digital:
Pertama, berinfak di waktu lapang maupun sempit, yang kini bisa berupa infak informasi, ilmu, dan konten berkemajuan.
Kedua, menahan amarah. Yakni tidak reaktif dan tidak mudah terpancing algoritma.
Ketiga, memaafkan. Hal ini untuk memutus rantai polarisasi dan cancel culture.
Keempat, segera mengingat Allah, yang diwujudkan dalam budaya klarifikasi dan tabayun sebagaimana QS. Al-Hujurat ayat 6.
BACA JUGA
Kholifah menegaskan, bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga mencakup berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab. Ia juga mengingatkan, bahwa membiarkan kekerasan digital berlangsung tanpa pembelaan menunjukkan kurangnya literasi empati.
Empat Pilar Anatomi Disinformasi dan Peran Strategis Perempuan ‘Aisyiyah
Mengacu pada kerangka Kominfo dan Siberkreasi, Kholifah memaparkan empat pilar literasi digital, yaitu cakap digital, etis digital, aman digital, dan budaya digital.
Pada aspek keamanan, ia mengingatkan pentingnya password yang kuat dan berbeda untuk setiap akun. Termasuk akun organisasi, serta kewaspadaan terhadap scam dan phishing.
Ia juga membedah perbedaan misinformasi, disinformasi, dan malinformasi berdasarkan niat dan kebenaran informasi, serta tujuh jenis disinformasi, mulai dari satire, konten menyesatkan, konten tiruan, hingga konten hasil manipulasi.
Kholifah menerangkan, ciri hoaks yang kerap beredar di grup WhatsApp, menurutnya, antara lain; judul huruf kapital yang memancing emosi, sumber yang tidak jelas, dan permintaan untuk segera meneruskan pesan.
“Kuncinya, jika kita temukan dua ciri tersebut, sebaiknya tahan dulu, lalu cek sumber, tanggal, dan motif,” pesannya.
Di akhir paparan, Kholifah menekankan bahwa di tengah banjir informasi, perempuan bukan sekadar penonton, melainkan penjaga pintu pertama sebelum informasi masuk ke rumah.
“Sebagai istri, perempuan ‘Aisyiyah harus menjadi teman diskusi kritis. Kemudian sebagai kader, kita harus menjadi rujukan informasi yang benar. Sebagai ibu, kita perlu menjadikan rumah sebagai madrasah digital,” ucapnya.
Selain itu, menurutnya, perempuan ‘Aisyiyah harus menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”. Kemudian sebagai warga, kita juga perlu menjadi agen tabayun yang meluruskan hoaks dengan adab.
Masuk untuk Memberikan Tanggapan
Kolom diskusi dilindungi. Silakan masuk menggunakan akun Muhammadiyah ID Anda untuk menyampaikan aspirasi dan tanggapan secara santun & beretika.