Oleh: Mahmudah*

Seratus tahun Suara ‘Aisyiyah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan momentum untuk melangkah lebih jauh.

Satu abad telah membuktikan bahwa suara perempuan mampu membaca zaman, merawat pengetahuan, menyuarakan nilai, dan menggerakkan perubahan.

Karena itu, memasuki abad kedua, pertanyaan kita bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan Suara ‘Aisyiyah, tetapi bagaimana menjadikannya kekuatan intelektual, moral, dan sosial untuk menata perubahan serta menggerakkan peradaban.

Abad kedua hadir dalam lanskap yang berbeda. Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat dan Akal Tiruan telah memasuki ruang pendidikan, penelitian, komunikasi, ekonomi, pemerintahan, dan produksi pengetahuan. 

Dalam situasi tersebut, tajdid tidak cukup berupa pembaruan bentuk, program, atau media. Tajdid harus menjadi pembaruan cara berpikir dan cara bergerak.

Inilah saatnya ‘Aisyiyah memperluas makna literasi: dari membaca teks menjadi membaca zaman, dari menerima informasi menjadi menguji kebenaran, dari menggunakan teknologi menjadi mengarahkannya, dan dari menghasilkan gagasan menjadi menghadirkan perubahan.

Literasi Perempuan: Menyalakan Kesadaran, Melahirkan Kepemimpinan

Literasi perempuan merupakan fondasi penting bagi peradaban. Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi harus menjadi kemampuan membaca data, perubahan sosial, perkembangan teknologi, ketidakadilan, peluang, risiko, dan masa depan.

Ketika perempuan memiliki pengetahuan, yang tumbuh bukan hanya kapasitas pribadi. Pengetahuan dapat memperkuat keluarga, komunitas, kualitas pendidikan, serta ketahanan masyarakat. 

Karena itu, perempuan ‘Aisyiyah perlu ditempatkan sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar penerima pengetahuan.

Setiap guru dapat menjadi produsen pengetahuan. Setiap kader dapat menjadi penulis. Setiap amal usaha dapat menjadi laboratorium inovasi. Setiap pengalaman pemberdayaan dapat didokumentasikan menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diwariskan.

Dengan cara demikian, tradisi literasi Suara ‘Aisyiyah berkembang dari sekadar menyampaikan informasi menjadi membangun ekosistem pengetahuan gerakan. Dari literasi lahir kesadaran. Dari kesadaran lahir keberanian. Dari keberanian tumbuh kepemimpinan. Dan dari kepemimpinan lahir kemampuan menggerakkan perubahan.

Menata Teknologi dalam Kendali Nilai

Artificial Intelligence atau Akal Tiruan membawa peluang besar. Ia dapat membantu manusia mengolah informasi, mempercepat pekerjaan, mendukung penelitian, membantu pembelajaran, dan memperluas akses pengetahuan.

Namun, teknologi juga membawa pertanyaan mendasar: siapa yang menentukan arah pemanfaatannya, nilai apa yang menjadi pedoman, dan untuk kepentingan siapa teknologi tersebut digunakan?

Akal Tiruan dapat menghasilkan kata, tetapi manusia memberikan makna. Akal Tiruan dapat mengolah informasi, tetapi manusia menentukan nilai. Akal Tiruan dapat mempercepat pekerjaan, tetapi manusia menentukan tujuan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Karena itu, menata Akal Tiruan bukan berarti menolak teknologi. Sebaliknya, ‘Aisyiyah perlu menguasainya secara kritis dan etis. Akal Tiruan harus diarahkan untuk memperluas literasi, memperkuat pendidikan, meningkatkan pelayanan sosial, memberdayakan perempuan, dan memperluas dakwah kemanusiaan.

‘Aisyiyah tidak boleh menjadi penonton transformasi Akal Tiruan. ‘Aisyiyah harus hadir sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang ikut mengarahkan transformasi tersebut.

Darul Ahdi wa Syahadah: Mengubah Teknologi Menjadi Kesaksian

Tajdid abad kedua tidak berhenti pada penguasaan teknologi. Ia harus dibuktikan melalui kerja nyata dalam kerangka Darul Ahdi wasy-Syahadah.

Indonesia adalah rumah kebangsaan yang telah disepakati sekaligus ruang untuk memberikan kesaksian melalui kontribusi nyata. Karena itu, kemajuan teknologi harus diterjemahkan menjadi kemajuan manusia.

Sekolah dan pesantren dapat menjadi ruang inovasi pembelajaran. Perguruan tinggi dapat menjadi pusat produksi pengetahuan. Rumah sakit dan klinik dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan.

Program pemberdayaan dapat menggunakan data dan teknologi untuk memperluas manfaat. Amal usaha ‘Aisyiyah dapat menjadi laboratorium kesaksian kebangsaan di era Akal Tiruan.

Jika teknologi meningkatkan mutu pendidikan, itulah kesaksian. Jika teknologi memperluas akses kesehatan, itulah kesaksian. Jika teknologi memperkuat kemandirian perempuan, itulah kesaksian. Jika teknologi membantu mendokumentasikan pengalaman masyarakat dan memperluas dakwah kemanusiaan, itulah kesaksian.

Dengan demikian, Akal Tiruan tidak berdiri di luar nilai agama dan kebangsaan. Ia menjadi instrumen untuk menghadirkan nilai tersebut dalam kehidupan.

Suara ‘Aisyiyah Abad Kedua: Dari Lokal Menuju Global

Dalam abad kedua, Suara ‘Aisyiyah perlu melangkah dari media yang menyampaikan gagasan menjadi ruang produksi dan distribusi pengetahuan gerakan.

Pengalaman guru, kader, tenaga kesehatan, pengelola amal usaha, perempuan pelaku pemberdayaan, dan masyarakat binaan merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga.

Jika pengalaman tersebut ditulis, diteliti, didokumentasikan, dan disebarluaskan, pengalaman lokal dapat menjadi pembelajaran nasional bahkan global.

Sulawesi Selatan memiliki kekayaan pengalaman gerakan yang dapat menjadi sumber inspirasi. Suara perempuan dari daerah tidak harus berhenti sebagai suara lokal. Ketika membawa nilai kemanusiaan universal, suara lokal dapat menjadi bagian dari percakapan dunia.

Karena itu, generasi muda harus menjadi bagian penting dari abad kedua. Suara ‘Aisyiyah perlu semakin dekat dengan generasi muda, semakin kuat dalam literasi digital, semakin kritis terhadap informasi, semakin cerdas menggunakan Akal Tiruan, dan semakin nyata keberpihakannya kepada kemanusiaan.

Menggerakkan Peradaban: Dari Pengetahuan Menuju Kemanfaatan

Pada akhirnya, tujuan tajdid bukanlah teknologi, melainkan peradaban. Akal Tiruan adalah alat. Literasi adalah kemampuan. Perempuan adalah penggerak. Organisasi adalah ekosistem. Sedangkan tujuan akhirnya adalah menghadirkan masyarakat yang baik, berilmu, beriman, berkeadilan, berkemajuan, dan berkeadaban: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Karena itu, tajdid abad kedua harus bergerak dalam satu rangkaian yang jelas: literasi melahirkan pengetahuan; pengetahuan melahirkan kesadaran; kesadaran melahirkan kepemimpinan; kepemimpinan melahirkan gerakan; dan gerakan menghadirkan peradaban.

Inilah saatnya Suara ‘Aisyiyah menjadi suara yang bukan hanya mencatat perubahan, tetapi ikut mengarahkannya. Bukan hanya membaca masa depan, tetapi ikut menciptakannya. Bukan hanya menyuarakan kemanusiaan, tetapi menghadirkannya dalam kerja nyata.

Seratus tahun pertama telah membuktikan bahwa suara perempuan mampu bertahan melintasi zaman. Seratus tahun kedua harus membuktikan bahwa suara perempuan mampu mengarahkan zaman.

Dari Sulawesi Selatan, mari menjemput abad kedua dengan keberanian melakukan tajdid: menata Akal Tiruan dengan ilmu dan etika, meneguhkan perempuan dengan literasi, dan menggerakkan peradaban melalui kerja nyata.

Dari literasi kita menyalakan kesadaran. Dari kesadaran kita melahirkan kepemimpinan. Dari kepemimpinan kita menggerakkan perubahan. Dan dari perubahan yang berakar pada iman, ilmu, keadilan, serta kemanusiaan, kita menjemput cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

*Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...