Pringsewu, Suara 'Aisyiyah — Upaya memperkuat penanganan masalah gizi dan stunting di Kabupaten Pringsewu terus dilakukan melalui pendampingan langsung kepada keluarga penerima manfaat. 

‘Aisyiyah Lampung bersama sejumlah mitra melakukan monitoring dan evaluasi program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita di Pekon Podomoro dan Pekon Blitar Rejo, Sabtu (3/10/26).

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Lampung Bidang Kesehatan, Pristi Wahyu Diawati mengatakan, evaluasi lapangan penting dilakukan untuk memastikan program tidak berhenti pada pemberian makanan, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap kondisi balita dan kapasitas keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

“Pendampingan ini membutuhkan komitmen bersama. Kader menjadi ujung tombak karena berinteraksi langsung dengan keluarga penerima manfaat. Karena itu, proses pendampingan dan pemantauan harus dilakukan secara konsisten agar perubahan kondisi balita dapat diketahui dan ditindaklanjuti,” kata Pristi.

Program tersebut berlangsung selama 12 pekan dan kini memasuki pekan ke-10. 

Selain pemberian makanan bergizi tiga kali konsumsi setiap hari, kader melakukan edukasi kepada keluarga, praktik pengolahan makanan, pendampingan pemberian makan kepada anak, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.

Program ini mendapat dukungan Lazismu dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) sebagai mitra pendukung. 

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat intervensi gizi sekaligus memastikan proses pendampingan berjalan secara konsisten hingga program berakhir.

Sebanyak 30 balita menjadi sasaran program, terdiri atas 20 balita di Pekon Blitar Rejo dan 10 balita di Pekon Podomoro. 

Tim monev melakukan kunjungan langsung ke keluarga penerima manfaat untuk melihat pelaksanaan pendampingan, kondisi balita, serta praktik pemenuhan gizi di tingkat keluarga.

Hasil pemantauan menunjukkan perkembangan berbeda di kedua wilayah. 

Di Blitar Rejo, 19 dari 20 balita atau 95% mengalami kenaikan berat badan, sedangkan satu balita atau 5% tercatat stagnan. Seluruh balita atau 100% juga mengalami peningkatan tinggi badan.

Di Podomoro, enam balita atau 60% mengalami kenaikan berat badan. Dua balita atau 20% berada dalam kondisi stagnan, sementara dua lainnya atau 20% mengalami penurunan berat badan karena sakit. 

Untuk pertumbuhan tinggi badan, 90% mengalami peningkatan dan 10% stagnan.

Menurut Pristi, capaian tersebut belum menjadi titik akhir, melainkan dasar untuk menentukan langkah pendampingan berikutnya. Program dijadwalkan terus berjalan hingga 16 Oktober 2026.

“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Hasil yang sudah terlihat harus terus dijaga melalui pendampingan keluarga, edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan serta pemerintah setempat,” ujarnya.

Monev turut melibatkan Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, PWA Lampung, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Pringsewu, Dinas Kesehatan, Dinas DP3AP2KB, puskesmas, pemerintah pekon, ahli gizi, bidan, kader, serta unsur mitra lainnya.

Dalam evaluasi bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, terungkap jumlah balita stunting di daerah tersebut berada di kisaran 1.200 anak. Sementara balita wasting tercatat sekitar 735 anak dan underweight mencapai 1.429 anak.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi masih membutuhkan intervensi yang terukur dan berkelanjutan. 

Karena itu, pengalaman pendampingan di Podomoro dan Blitar Rejo dinilai dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program serupa di pekon lain.

Pristi menegaskan penanganan stunting tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada konsistensi kolaborasi sejak tingkat keluarga hingga pemerintah daerah.

“Kolaborasi antara ‘Aisyiyah, LAZISMU, YAICI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah pekon, kader, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan stunting di Kabupaten Pringsewu,” tegasnya.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas kader menjadi salah satu kunci keberlanjutan program. 

Kader tidak hanya berperan dalam distribusi makanan tambahan, tetapi juga menjadi penghubung antara keluarga, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan dalam memantau tumbuh kembang balita.

Melalui pendekatan tersebut, ‘Aisyiyah Lampung mendorong agar pendampingan tidak berhenti setelah program selesai, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan gizi keluarga dan mempercepat terwujudnya Pringsewu bebas stunting. (Guswir)-sa

Sumber Informasi & Rujukan suara aisyiyah
Kunjungi Sumber Asli
Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...